Wadah Menulis Mahasiswa

Electronic transaction, the new economy

April 21st, 2012 | by | in Headline, ICT | 3 Comments

Electronic transaction, the new economy

Pembayaran melalui telepon seluler saat ini masih menggunakan transaksi mobile banking, dimana penjual dan pembeli memiliki rekening pada bank yang sama, atau bahkan bisa saja berbeda. Selain melalui telepon seluler, hal yang sama bisa dilakukan melalui internet, biasa disebut online internet banking.

Data pengguna telepon genggam di Indonesia menurut Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI), menunjukkan pada angka 180 juta pengguna di tahun 2010, dimana 95%-nya pengguna kartu pre-paid (sumber: vivanews) dan 60% pasar dikuasai oleh Telkomsel (sumber: www.budde.com.au).

Fakta diatas memberikan kesempatan besar bagi provider seluler untuk memberikan jasa transaksi elektronik melalui telepon seluler, atau disebut juga dengan mobile payment, tentu saja harus diatur dalam ruang lingkup regulasi keuangan.

Mobile payment adalah alternatif pembayaran selain uang tunai atau kartu kredit, pengguna/konsumen bisa melakukan pembayaran melalui telepon genggam. Ada empat model primer untuk mobile payment:

a. Premium SMS based transactional payments
b. Direct Mobile Billing
c. Mobile web payments (WAP)
d. Contactless NFC (Near Field Communication)

(sumber: wikipedia)

Untuk kota besar seperti Jakarta, bisa dilihat secara langsung manfaat jika teknologi ini dikembangkan, dan tidak menutup kemungkinan manfaat yang sama akan dirasakan pada kota-kota besar lainnya di Indonesia. Contoh yang paling mudah adalah, setiap orang tidak lagi perlu mengantri di mesin ATM untuk mengambil uang tunai, cukup membawa telepon selulernya utk bertransaksi, tentu saja dengan pulsa yang cukup, atau bagi pengguna kartu pasca bayar, akan membayar melalui tagihan bulanan selulernya. Selain itu, tidak ada lagi kembalian berupa “permen”.

Banyak manfaat lain dari teknologi ini, namun disisi lain, setiap teknologi pasti memiliki tantangannya sendiri, sebagai contoh, tantangan sistem keamanan transaksi dan kemudahan transaksi antar provider. Akan tetapi, jangan sampai kemudahan bertransaksi menurunkan kemanan, dua hal ini ‘kudu’ setimbang.

Coba bayangkan, 95% dari 180juta pengguna, mengisi pulsa 10.000rupiah saja tiap bulannya, kita membicarakan uang sejumlah 1.7triliun rupiah setiap bulan. Yang menjadi pertanyaan lebih baik jadi provider atau pengguna?

Ditulis Oleh

Julius Usman → 40MMSI-1

Lihat semua tulisan dari

3 Responses to “Electronic transaction, the new economy”

  1. fardian says:

    Menarik bro, mungkin tidak sampai 20 tahun dari sekarang sudah tidak ada peredaran uang fisik ? we never knows .. :)

  2. Saya suka dengan kalimat ini (tidak ada lagi kembalian berupa “permen”.) :D
    Revisi (dua hal ini ‘kudu’ setimbang.) Seimbang mungkin. :)

    • Julius Usman says:

      Setimbang dengan kata lain adalah equilibrium, dimana jika keamanan ditingkatkan, tentu saja kemudahan akan menjadi menurun, begitu juga sebaliknya, jika terlalu mudah, keamanan akan menjadi turun. Coba bayangkan tentang equilibrium supply dan demand, sama halnya dengan keamanan dan kemudahan.

      Sebagai ilustrasi, jika kemananan ditingkatkan, misalkan, menggunakan kompleksitas password, tentu saja kemudahan akan menurun, karena pengguna harus mengingat password yang kompleks. Sebaliknya, jika password sangat mudah, misalkan pin angka 4, tentu saja dalam hal keamanan dianggap kurang, oleh karena itu, pin ATM bank saat ini pun menggunakan standar 6 digit.

      Hal diatas disebut dengan kesetimbangan, setimbang atau equilibrium. Dua faktor yang mempengaruhi satu sama lain antara naik dan turunnya.

      Terima kasih sudah membaca dan untuk komennya ya.

      salam.

Leave a Reply