Wadah Menulis Mahasiswa

Peneliti Itu Tukang “Fitnah”

May 6th, 2012 | by | in Edukasi, Headline | 1 Comments

Kita kadang suka menduga-duga, baik itu berbaik atau berburuk sangka tentang seseorang atau sebuah kejadian. Saat mendengar berita bahwa ada kecurangan atau soal bocor saat Ujian Nasional, sering terbersit di kepala: “Jangan-jangan UN di sekolah anak saya bocor juga”. Selama dugaan itu belum terbukti di sekolahnya, itulah “fitnah”.

Atau, saat Anda mendengar hasil riset seorang Guru  Besar yang beritanya bisa dibaca di sini, bahwa mahasiswa Indonesia hanya bersifat rekreatif saja, atau jarang yang kreatif, akhirnya  kita pun berprasangka: “Jangan-jangan kondisi tersebut juga berlaku di kampus ini?”. Selama itu prasangka, kita tidak tahu apakah faktanya menyatakan demikian, atau dengan kata lain, fitnah itu menjadi sebuah kebenaran.

Fitnah selalu ada dasarnya, setidaknya ada pencetus atau pengungkitnya. Orang bilang, ada indikasi atau sumber-sumber informasi yang mendasari fitnah. Semakin kuat sumbernya, fitnah itu berpeluang menjadi sebuah kebenaran, dengan catatan kita mencari fakta yang bisa membuktikan bahwa fitnah itu ternyata menjadi sebuah kebenaran.

Dalam konteks penelitian atau metode ilmiah, “fitnah” itu sebut hipotesis. Dasar atau sumber informasi yang mendasarinya disebut “premis”. Jadi ketika meneliti, kita pantang untuk langsung memfitnah, atau ujug-ujug berprasangka tanpa ada dasarnya. Jadi urutan cara berpikir ilmiahnya adalah cari premis dulu, menyusun hipotesis kemudian, lalu buktikanlah dengan pengukuran (pengumpulan) dan analisis data hingga dihasilkan kesimpulan. Bukankah saat kita berprasangka tanpa menyebutkan sumber atau indikasinya, maka dalam pergaulan sehari-hari pun kita bisa dituduh “tukang gosip” karena berprasangka tanpa dasar.

Cara Berpikir Ilmiah

Setelah mempunyai “fitnah” (baca sebagai Hipotesis) yang didukung oleh premis yang kuat, seorang peneliti berusaha untuk membuktikan fitnah tersebut, apakah fitnah benar atau salah. Pembuktian tersebut melalui pengumpulan dan pengolahan data. Jadi cara berpikir ilmiah itu secara sederhana terdiri dari tiga langkah utama:

Premis -> Hipotesis -> Pembuktian/Verifikasi

Dalam konteks oleh piker filsafati, langkah tersebut bisa juga diartikan: Deduksi –> Hipotesis –> Induksi. Ketiga langkah tersebut sering ditemui pada penelitian yang menggunakan kaidah analisis statistic inferensial. Berpikir deduktif adalah membuat pernyataan khusus berdasarkan pernyataan umum. Misalnya, pada contoh di atas, “Mahasiswa Indonesia lebih mementingkan gaya hidup” dijadikan premis kita saat membuat pernyataan: “Mahasiswa di Universitas Gunadarma lebih mementingkan gaya hidup”. Apakah pernyataan khusus (hipotesis) tersebut benar atau tidak? Kesimpulannya baru bisa diperoleh jika kita mengumpulkan data di Universitas Gunadarma, misalnya dengan melalukan survey ke sejumlah mahasiswa sebagai sampel penelitiannya.

Sudahkah proposal riset dilengkapi dengan premis dan hipotesis yang kuat, bermutu, relevan, dan mutakhir? (doc pribadi)

Pendekatan deduksi-hipotesis-verikasi memang lebih banyak ditemu pada riset-riset di bidang sosial-ekonomi dengan menggunakan pendekatan statistik. Soal pendekatan ini, memang ada “kubu-kubunya”, misalnya riset kuantitatif vs kualitatif, kubu analisis vs sintesis, dll. Nanti saja kita menyimak  soal “debat” tersebut.

Darimana Premis?

Yang jelas, kabar burung atau informasi yang tidak jelas dan akurat tidak bisa dijadikan premis untuk sebuah penelitian, apalagi jika riset itu untuk tingkat pascasarjana. Bahkanm ada kampus yang secara ekplisit tidak membolah rujukan atau sumber referensinya koran, majalah, blog, bahkan wikipedia pun tidak diperkenankan. Intinya adalah premis harus kuat dan terpercaya. Memang kadang masih ada perdebatan tentang kriteria kuat dan terpercaya. Namun, konsensusnya adalah jika premis diambil dari hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah maka premisnya dianggap kuat dan terpercaya.

Jadi jangan heran jika pembimbing atau penguji thesis kita menginginkan mahasiswa mengutip artikel di jurnal ilmiah. Selain kuat dan terpercaya, premis atau rujukan pustaka kita pun harus relevan dengan topik risetnya. Prinsip lainnya, kita sebaiknya mencari informasi dari tangan pertama, atau bukan dari pihak kedua, bahkan sampai pihak ketiga. Prinsip itu diterapkan saat pembimbing tidak membolehkan mengutip informasi atau data dari koran atau majalah. Bukankah wartawan atau penulis di koran atau majalah tersebut mengutip datanya dari pihak lain?

Misalnya, berita tentang jumlah perbankan, wartawan mengutipnya dari Bank Indonesia. Jadi, kita sebaiknya mencar dari sumber pertama. Prinsip tersebut juga diterapkan pada rujukan artikel di Jurnal ilmiah yang memang didasarkan hasil riset dari penulisnya. Jadi, bisa dipahami bahwa pustaka berupa textbook relatif kurang bermutu dibandingkan artikel pada jurnal ilmiah. Memang kriteria bermutu itu bersifat relatif, namun di kalangan akademisi atau peneliti, kriteria bermutu itu bisa diukur dengan seberapa banyak artikel tersebut dirujuk oleh peneliti atau penulis lainnya. Salah satu indikatornya adalah citation index atau impact factor, yang sederhananya adalah jumlah tulisan lain yang mengutip artikel tersebut sebagai rujukan.

Mengutip Sumber Rujukan Online

Pencarian premis semakin mudah dengan kehadiran dunia maya. Kadang kita menemukan tulisan di internet yang relevan dengan topik riset kita. Tulisan tersebut bisa saja ada dalam sebuah blog, portal berita, website kampus, Wikipedia, atau jurnal online. Mengenai jenis-jenis sumber kutipan (yang bisa menjadi premis) di dunia maya, coba kita simak tulisan Chelsea Lee (2010) dengan tulisannya berjudul: “How to Cite Something You Found on a Website in APA Style”. Ilustrasinya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

“Telok Ceplok” pada rujukan ilmiah di dunia maya (sumber: Chelsea Lee, 2010)

Soal publikasi ilmiah di dunia maya, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan baru, yaitu kewajiban unggah ilmiah bagi karya dosen dan mahasiswa, serta kebijakan yang menuai kontroversi, yaitu kewajiban membuat makalah sebagai syarat kelulusan. Silakan menyimak dua tulisan tentang topik tersebut pada tautan tulisan di bawah ini:

  1. Kebijakan Unggah Karya Ilmiah, Efektifkah Mencegah Plagiat?
  2. Jurnal Jadi Syarat Lulus, Setuju?

Ditulis Oleh

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pasca.gunadarma.ac.id/pasca

One Response to “Peneliti Itu Tukang “Fitnah””

Leave a Reply