Wadah Menulis Mahasiswa

BI-RTGS, Jakarta Kebanjiran Transaksi Digital

May 8th, 2012 | by | in Headline, Perbankan | 13 Comments

Kita sering mendengar omongan uang itu terpusat di Jakarta. Obrolan tersebut dilengkapi estimasi angkanya, misalnya lebih dari 50%, atau lebih besar dari itu. Namun kita tidak pernah tahu berapa  sebenarnya uang yang berputar di ibukota. Berapa puluh triliun, atau bahkan ratusan atau ribuan triliunkah? Lalu, apakah daerah cuma bisa gigit jari, atau menjadi penonton saja saat uang berjubel di Jakarta?

Kali ini kita mencoba menyimak tentang jumlah uang di ibukota dengan menggunakan data transaksi RTGS saja. Real Time Gross Settlement merupakan sistem transfer seketika antar bank atau lembaga terkait lainnya melalui sebuah backbone oleh Bank Indonesia. Kita namakan saja sistem tersebut sebagai BI-RTGS.

Penyelenggara BI-RTGS sesuai tugas pokok BI untuk menjaga dan memelihara sistem pembayaran (doc pribadi)

Sekilas BI-RTGS

Menurut BI di sini, Sistem BI-RTGS adalah suatu sistem transfer dana elektronik antar Peserta dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan secara seketika per transaksi secara individual. Sistem BI-RTGS diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Peserta Sistem BI-RTGS terdiri dari seluruh bank dan Non bank, yang dibedakan menjadi Peserta Langsung dan Peserta Tidak Langsung. Peserta Langsung adalah peserta yang dapat melakukan transaksi RTGS secara langsung dengan menggunakan RTGS Terminal milik Peserta.

Penerapan Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (Sistem BI-RTGS) di Indonesia dimulai sejak tanggal 17 November 2000. Kehadiran sistem BI-RTGS di Indonesia sebagai sarana settlement (penyelesaian akhir transaksi pembayaran) sangat penting mengingat transaksi pembayaran perbankan bernilai besar merupakan mayoritas dari total transaksi pembayaran di Indonesia.

Apabila Anda sebagai nasabah memberi instruksi kepada bank untuk melakukan transfer dana melalui Sistem BI-RTGS dalam jam pelayanan bank, maka ketentuan Bank Indonesia menjamin bahwa dana tersebut akan diterima oleh Nasabah penerima paling lambat pada hari itu juga.

Seberapa Banyak Transaksi Lewat RTGS?

Jawabannya bisa dilihat dari Statistik Sistem Pembayaran yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia. Pada bulan April 2012, nilai transaksi RTGS agregat mencapai Rp 10200,5 Triliun dengan jumlah transaksi sebanyak 1.361.976 transaksi. Wuih, lebih dari 10 Biliun Rupiah pun bersliweran melalui backbone jaringan komputer dan komunikasi data dari Sabang sampai Merauke. Kita lihat tabel data selama satu tahun yang dikutip dari Bank Indonesi berikut ini.

Sumber: Statistik Sistem Pembayaran-BI, data diakses 7 Mei 2012

Data di atas adalah transaksi RTGS agregat. Data transaksi Berdasarkan Kelompok Pelaku dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Terlihat bahwa transaksi RTGS masih didominasi oleh Bank Umum.

Transaksi RTGS Berdasarkan Kelompok Pelaku (Sumber; Statistik Sistem Pembayaran-BI, diakses 7 Mei 2012)

Jakarta Menyedot Kiriman dari Daerah?

Inilah salah satu bukti bahwa Jakarta memang pusat perputaran uang. Transaksi di Jakarta sendiri (dari dan ke Jakarta – atau transaksi From-To) mencapai Rp 272,2 Triliun selama bulan April 2012. Transaksi dari Jakarta ke luar Jakarta (transaksi From) mencapai Rp 631,1 Triliun, sedangkan dari transaksi dari luar Jakarta ke Jakarta (transaksi To) sebanyak Rp 683,2 Triliun. Jadi bisa disimpulkan bahwa perputaran transaksi RTGS di Jakarta sendiri mencapai 272 Triliun dan Jakarta lebih banyak menerima transaksi daripada mengirim ke luar Jakarta. Data tersebut bisa dilihat di sini (Catatan: data pada tulisan ini diambil pada tanggal  7 Mei 2012).

Kota atau daerah mana saja yang perputaran transaksi internal (transaksi From-To) terbanyak? Berikut peringkat lima besar berdasarkan data bulan April 2012.

  1. Jakarta, Rp  Rp 272,2 Triliun
  2. Surabaya, Rp 16,5 Trilun
  3. Medan, Rp 12,2 Trilun
  4. Pekanbaru, Rp 6,8 Triliun
  5. Bandung, Rp 6,6 Triliun

Memang bak bumi dan langit melihat nilai transaksi antara Jakarta dengan kota/dearah lain. Nah, sekarang mari kita lihat kota atau daerah (selain Jakarta) yang paling getol mengirim transaksinya ke luar daerah.

  1. Surabaya, Rp 26,9 Triliun
  2. Medan, Rp 24,1 Triliun
  3. Semarang, Rp 16,2 Triliun
  4. Bandung, Rp 12,5 Triliun
  5. Pekanbaru, Rp 11,7 triliun
  6. Mataram, Rp 9,8 Triliun
  7. Banjarmasin, Rp 7,6 Triliun
  8. Pontianak, Rp 7,2 Triliun
  9. Banda Aceh, Rp 6,7 Triliun
  10. Kupang, Rp 6,0 Triliun

Jika berbicara Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, dan Bandung maka kita bisa langsung manggut-manggut mencermati peringkat di atas. Namun, saat melihat Pekanbaru, Mataram, Banjarmasin, Pontianak, Banda Aceh, dan Kupang, kita mungkin bisa menebak-nebak, mengapa kota-kota tersebut masuk sepuluh besar (di luar Jakarta) sebagai kota yang getol mengirim uang ke luar daerahnya.

Apa tebakan Anda?

Ditulis Oleh

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pasca.gunadarma.ac.id/pasca

13 Responses to “BI-RTGS, Jakarta Kebanjiran Transaksi Digital”

  1. raden bayu h says:

    nahh ini perlu ada perhatian pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah tak hanya itu pemrintahan daerah harus bisa mengatur rumah tangganya sendiri sedemikian rupa dan bila ingin merekomendasikan perubahan daerahnya ke pemrintah pusat maka pemerintah pusat tak perlu lagi berkerja 2 kali untuk menangani masalah masal tersenut

    contoh banda aceh perlu di bangun sebuah terminal kapal besar dan bandar udara yang dapat menangani percepatan distribusi di daerahnya.

    pelatihan SDM aceh untuk bisa membangunpabrik pabrik jasa tau pun pabrik barang yang sifatnya berguna untuk masyrakatnya sendiri seperti kelapa sawit yang dimiliki pribumi atau membuat pasar pasar masyarakat yang di awasi pemerintahan.

    perlu adanya bibit muda yang mau mereka membuat sesuatu untuk daerahnya misal mahasiswa aceh bisa belajar dengan mahasiswa bandung dalam membuat kaos keren atau t shirt yang di ngemari kaula muda.

    SDM aceh harus bia membaca situasi sekarang : apa yang sedang digemari apa yang sedang dibutuhkan dan apa yang sedang di cari di daerah tersebut.

    untuk pemerintah aceh harus membuat peta peta ladang usaha bertetap untuk bisa adanya interaksi di dalamnya misal pabrik kelapa sawit itu dekat dengan pabrik sepatu maka perlu adanya relasi untuk mengembangkan usaha dengan saling sponsor prodak.

    #masih berlanjut

  2. raden bayu h says:

    nahh ini perlu ada perhatian pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah tak hanya itu pemrintahan daerah harus bisa mengatur rumah tangganya sendiri sedemikian rupa dan bila ingin merekomendasikan perubahan daerahnya ke pemrintah pusat maka pemerintah pusat tak perlu lagi berkerja 2 kali untuk menangani masalah masal tersenut

    contoh banda aceh perlu di bangun sebuah terminal kapal besar dan bandar udara yang dapat menangani percepatan distribusi di daerahnya.

    pelatihan SDM aceh untuk bisa membangunpabrik pabrik jasa tau pun pabrik barang yang sifatnya berguna untuk masyrakatnya sendiri seperti kelapa sawit yang dimiliki pribumi atau membuat pasar pasar masyarakat yang di awasi pemerintahan.

    perlu adanya bibit muda yang mau mereka membuat sesuatu untuk daerahnya misal mahasiswa aceh bisa belajar dengan mahasiswa bandung dalam membuat kaos keren atau t shirt yang di ngemari kaula muda.

    SDM aceh harus bia membaca situasi sekarang : apa yang sedang digemari apa yang sedang dibutuhkan dan apa yang sedang di cari di daerah tersebut.

    untuk pemerintah aceh harus membuat peta peta ladang usaha bertetap untuk bisa adanya interaksi di dalamnya misal pabrik kelapa sawit itu dekat dengan pabrik sepatu maka perlu adanya relasi untuk mengembangkan usaha dengan saling sponsor prodak.

    #masih berlanjut.

  3. raden bayu h says:

    nahh ini perlu ada perhatian pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah tak hanya itu pemrintahan daerah harus bisa mengatur rumah tangganya sendiri sedemikian rupa dan bila ingin merekomendasikan perubahan daerahnya ke pemrintah pusat maka pemerintah pusat tak perlu lagi berkerja 2 kali untuk menangani masalah masal tersenut

    contoh banda aceh perlu di bangun sebuah terminal kapal besar dan bandar udara yang dapat menangani percepatan distribusi di daerahnya.

    pelatihan SDM aceh untuk bisa membangunpabrik pabrik jasa tau pun pabrik barang yang sifatnya berguna untuk masyrakatnya sendiri seperti kelapa sawit yang dimiliki pribumi atau membuat pasar pasar masyarakat yang di awasi pemerintahan.

    perlu adanya bibit muda yang mau mereka membuat sesuatu untuk daerahnya misal mahasiswa aceh bisa belajar dengan mahasiswa bandung dalam membuat kaos keren atau t shirt yang di ngemari kaula muda.

    SDM aceh harus bia membaca situasi sekarang : apa yang sedang digemari apa yang sedang dibutuhkan dan apa yang sedang di cari di daerah tersebut.

    untuk pemerintah aceh harus membuat peta peta ladang usaha bertetap untuk bisa adanya interaksi di dalamnya misal pabrik kelapa sawit itu dekat dengan pabrik sepatu maka perlu adanya relasi untuk mengembangkan usaha dengan saling sponsor prodak.

    #masih berlanjut….

  4. raden bayu h says:

    di daerah luar pulau jawa sebenarnya hal terpenting adalah bagimana car pendidikan dasar mendidik pengolahan SDM dan SDA di derahnya tersebut. Bagaimana cara mengelola SDA untuk bisa mengantongi khas pemerintah daerah tersebut dan SDM mampu membuat prodak untuk daerahnya sendiri dalam memenuhi kebutuhanya

  5. Saya sangat menyukai artikel ini. Sebagai orang yang awam dengan istilah BI-RTGS, setelah membaca artikel ini saya semakin tertarik dengan dunia perbankan. Dengan kegiatan perekonomian yang semakin pesat, BI-RTGS sangat dibutuhkan bagi bank dan lembaga terkait lainnya dalam melakukan transaksi nontunai dalam jumlah besar. Tentunya BI-RTGS sangat memberikan keuntungan bagi nasabah, yaitu keamanan dan cepatnya transaksi.
    Menurut saya, alasan mengapa Pekanbaru, Mataram, Banjarmasin, Pontianak, Banda Aceh, dan Kupang menjadi sepuluh besar yang sering melakukan transaksi ke luar daerah, itu dikarenakan banyaknya transaksi dalam kegiatan perekonomian seperti transaksi ekspor impor, kegiatan perdagangan maupun industri lainnya, serta banyaknya Bank yang menjadi peserta langsung pada daerah-daerah tersebut.

  6. Sebelumnya sy berterima kasih atas tulisan diatas, karna menambah wawasan sy dibidang ekonomi. jujur saja biar sy jurusan ekonomi namun tdk banyak hal yg sy ketahui dibidang ini…#curcol :D. Kita semua tahu jakarta adalah pusat dari segala pusat di Indonesia..hehe #soktausy. Adanya transaksi BI-RTGS ini menurut sy sangat bagus. dunia semakin berkembang dan dibutuhkan suatu sistem yang serba cepat. Disinilah peran BI-RTGS menjadi sarana transfer dana antar-bank yang praktis, cepat, efisien, aman dan handal. Dari tulisan diatas mengapa kota-kota tersebut masuk sepuluh besar (di luar Jakarta) sebagai kota yang getol mengirim uang ke luar daerahnya, menurut sy karena daerah2 tsb merupakan daerah yang banyak melakukan transaksi ke luar daerah sehingga dibutuhkan sistem BI-RTGS untuk melancarkan transaksi from-to luar daerah.
    Sebut saja kota banjarmasin, disana terdapat kegiatan pertambangan.
    pendapat sy sperti itu, mohon pencerhannya. tqs

  7. Salam Sejahtera,
    Jelas kalau Jakarta paling banyak menerima kiriman dari daerah-daerah lain, yang notabene adalah pusat dari pemerintahan dan bisa dibilang pusat dari segala-galanya yg menyangkut Indonesia, Oke, saya akan mengambil beberapa contoh seturut dengan berkembangnya sistem transaksi dan komunikasi belakangan ini menjadikan Sistem Belajan Online menjadi Booming, terlihat dari menjamurnya situs-situs belanja online belakangan ini, pasti mereka akan mengirikam dana mereka melalui bank, dan selain itu juga sebagian besar dari penjual berdomisili di Jakarta.

    Bukan itu saja, Jakarta sebagai Ibu Kota Negara juga menjadikan daya tarik bagi orang untuk datang kesana, terutama untuk sekolah maupun kuliah banyak kampus dijakarta baik negri ataupun swasta yang dimana siswa/i nya adalah orang-orang perantau, dimana mereka masih dibiayai oleh orang tua mereka sehingga tiap bulan orang tuanya akan mengirimkan biaya untuk kebutuhan anaknya bersekolah, baik itu uang kuliah maupun untuk kebutuhan sehari-hari..

    contoh diatas memang terlihat simpel, dan kurang mendukung, tapi saya yakin itu pasti juga mempunyai peranan juga

  8. raden bayu h says:

    intinya SDM dan SDA harus berpadu untuk membangun daerahnya sendiri

  9. raden bayu h says:

    perlu adanya promosi bebesar besaran atas apa yang di produksi daerah tersebut melalui media masa dan media masyarakat

  10. BI-RTGS berarti sistem transfer dana elektronik yang penyelesaian setiap transaksinya dilakukan dalam waktu seketika memproses transaksi pembayaran yang termasuk High Value Payment System (HVPS) atau transaksi bernilai besar yaitu transaksi Rp.100 juta. Masuk akal jika Jakarta menjadi pusat perputaran uang hingga triliunan rupiah ,transaksi From-To Terjadi di kota – kota besar karena di situlah pusat uang dan tempat yang strategis untuk melakukan bisnis tanpa perlu mengadakan uang cash yang bertumpuk ,karena tersedianya teknologi dan SDM yang memadai guna mendukung transaksi BI_RTGS .kenapa Pekanbaru, Mataram, Banjarmasin, Pontianak, Banda Aceh, dan Kupang getol mengirim uang ke luar daerahnya ? di sana terkenal dengan hasil tambang dan perkebunanya. tentu disana hanya terdapat pabrik dan karyawan. tidak perlu membangun kantor di sana ,karena dengan majunya SDM dan teknologi kegiatan transaksi uang dengan jumlah besar bisa di lakukan dengan seketika ,serta di barengi dengan keamanan yang menjamin kelangsungan transaksi.

  11. membaca artikel tersebut , saya langsung tersenyum sendiri. alangkah besar nya pendapatan negara Indonesia. Andai tidak ada koruptor pasti Indonesia akan sejahtera.. perlu adanya pembangunan untuk daerah lainnya. sehingga adanya pemerataan dan tdk terjadi kesenjangan sosial

Leave a Reply