Wadah Menulis Mahasiswa

Ekonomi Kreatif, Apaan Sich?

May 12th, 2012 | by | in Headline, Resensi Buku | No Comments

Kita sering mendengar istilah kreatif, atau kreativitas. Sebagian dari kita pun pasti bangga atau senang saat disebut sebagai orang kreatif. Namun, jika disandingkan dengan ekonomi, apa yang dimaksud dengan ekonomi kreatif? Saya coba sekilas mengulas ekonomi kreatif ini dari stu sumber rujukan saja, yaitu “Creative Economy Report 2010” yang dirilis oleh PBB.

Sumber: Cretative Economy Report 2010, PBB

Sumber: Creative Economy Report 2010, PBB

Berbagai pengertian kreatif atau frase yang mengandung kata kreatif dipaparkan pada Bab 1 di buku tersebut, termasuk pengerian dan klasifikasi dari ekonomi kreatif. UNCTAD membedakan pengertian industri kreatif dengan ekonomi kreatif, walaupun ada keterkaitan erat, layaknya dua sisi mata uang. Memang banyak definisi atau model yang menjekaskan industri kratif atau ekonomi kreatif. Yang jelas, istilah ekonomi kratif lebih luas dari industri kreatif yang merupakan fondasi atau pelaku utama dalam ekonomi kreatif. Istilah “creative economy” muncul pada tahun 2001 pada buku yang dikarang oleh John Howkins tentang hubungan antara kreatifitas dengan ekonomi.

“creativity is not new and neither is economics, but what is new is the nature and the extent of the relationship between them and how they combine to create extraordinary value and wealth” – Howkins

Apakah yang disebut dengan ekonomi kreatif? Kita kutip definisi versi UNCTAD di bawah ini.

“The creative industries: (a) are the cycles of creation, production and distribution of goods and services that use creativity and intellectual capital as primary inputs; (b)  constitute a set of knowledge-based activities, focused on but not limited to arts, potentially generating revenues from trade and intellectual property rights; (c) comprise tangible products and intangible intellectual or artistic services with creative content, economic value and market objectives; (d) stand at the crossroads of the artisan, services and industrial sectors; and (e)  constitute a new dynamic sector in world trade.”

Klasifikasi Industri Kreatif (sumber: Creative Economy Report 2010, PBB)

 

Sedangkan definisi ekonomi kreatif menurut UNCTAD adalah sebagai berikut:

The “creative economy” is an evolving concept based on creative assets potentially generating economic growth and development. 

  • It can foster income generation, job creation and export earnings while promoting social inclusion, cultural diversity and human development.
  • It embraces economic, cultural and social aspects interacting with technology, intellectual property and tourism objectives.
  • It is a set of knowledge-based economic activities with a development dimension and cross-cutting linkages at macro and micro levels to the overall economy.
  • It is a feasible development option calling for innovative, multidisciplinary policy responses and interministerial action.
  • At the heart of the creative economy are the creative industries.

Klasifikasi ekonomi kreatif versi UNCTAD (sumber: Creative Economy Report 2010, PBB)

Apakah Indonesia disebut dalam laporan PBB tersebut?

Indonesia disebut sebanyak 26 kali pada laporan setebal 423 halaman tersebut. Itupun lebih banyak di bagian lampiran data atau statistik tentang perbandingan antar Negara. Beberapa data dari Indonesia pun kosong atau tidak tersedia pada laporan tersebut. Kalimat pertama yang ada Indonesianya baru ditemukan pada halaman 47.

Several major Asia-Pacific economies, including China, India, Indonesia, Malaysia, Philippines, Republic of Korea, Singapore, Thailand and Viet Nam have much activity related to the creative economy as well as a strategic interest in creative-industry development, though it may not be expressed in these terms.”

Lalu bagaimana profil Indonesia terkait dengan ekonomi kreatif?

 

Indonesia: The creative industries contributed 4.7 per cent of the national GDP in 2006 and grew by 7.3 per cent in 2008, able to absorb 3.7 million workers, equal to 4.7 per cent of the total workforce, despite the fact that these industries are still not yet properly mapped out. The focus on creative industries was spurred by the President, who instructed the Trade Ministry to boost the creative industries. Indonesia’s fashion industry has grown by 30 per cent, handicrafts by 23 per cent and advertising by 18 per cent. Music is also a growing industry, until now limited to the domestic market, but in the near future will become the basis for exports. The Trade Ministry is in the process of mapping these creative industries and has already has complete data on furniture and handicrafts.

Harus diakui Indonesia memang tergolong Negara yang belum kreatif. Kalo toh saat ini Indonesia dikenal sebagai negara berkembang yang relatif menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat, itu lebih mengandalkan sumber daya alam. Eksploitasi sumber daya alam masih relatif dominant dibandingkan eksploitasi kreativitas dan inovasi dari sumber daya manusianya.

Ditulis Oleh

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pasca.gunadarma.ac.id/pasca

Leave a Reply