Wadah Menulis Mahasiswa

Jakarta (Masih) Gudang Uang

May 20th, 2012 | by | in Headline, Perbankan | 1 Comments

BI kembali merilis Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Edisi Maret pada tanggal 15 Mei 2012 di sini. Puluhan tabel yang berserakan dalam laporan lebih dari 200 halaman tersebut sudah membuat pusing tersendiri. Belum lagi substansinya. Namun tidak ada salahnya mencermatinya, walaupun sekilas sembari menunggu siaran langsung final Liga Champion antara Bayer Munchen vs Chelsea.

Apa sih yang kira-kira menarik tentang SPI Maret 2012?  Halaman awal seperti biasanya memaparkan kinerja bank umum, baik secara total maupun per kelompok bank. Rasanya tidak ada yang menarik saat membaca aset perbankan nasional – khusus bank umum atau di luar BPR – sudah mencapai Rp 3.708.7 Triliun, dengan total DPK (Dana Pihak Ketiga) sebesar Rp 3094,6 Triliun dan penyaluran dananya sebanyak  Rp 3663,1 Triliun. Hmm, tidak ada yang luar biasa karena bank memang saking kuatnya mencengkeram perekonomian Indonesia.

Pandangan berhenti di halaman 47 saat melihat kinerja bank umum konvensional. Nilai CAR per Maret 2012 sebesar 18,28%, relatif aman dan jauh di atas ambang batas psikologis 8%. ROA 3,05%, menurun dibandingkan Fabruari, tapi biarlah itu bisa jadi geliat sesaat saja. Biasanya bank memang menangguk untung di akhir tahun. Toh per maret 2012 perbankan masih memetik laba bersih Rp 21,6 Triliun. BOPO 76,68%, lumayan turun terus dalam tiga bulan, yang tadinya 91,78% pada Januari dan 85,96% pada Februari 2012. Mudah-mudahan bank semakin efisien, walau untuk saat ini BOPO tergolong tertinggi di ASEAN, alias paling boros.

NIM (Net Interest Margin) 5,15%, cenderung menurun terus dalam tiga bulan terakhir. Mungkin karena bank mulai dipaksa menurunkan suku bunga kredit, atau pukulan dari berbagai regulasi BI, misalnya batasan uang muka kredit kendaraan atau makin ketatnya regulasi kartu plastik. Ini pun baru dugaan karena regulasi ketat tidak langsung berdampak dalam jangka pendek.

LDR lambat laun mulai meningkat, sekarang ada pada level 79,89%. Artinya, bank mulai meningkat resikonya, bisa jadi itu melalui penyaluran dana ke alernatif yang beresiko, misalnya kredit. Biarlah mereka segera melakukan ekspansi kredit, khususnya ke sektot riil, namun tetap berhati-hati, dan dengan bunga murah tentunya. Rasio Aset likuid pun menurun menjadi 20,45%. Sebuah konsekuensi logis saat bank mulai menyalurkan asetnya ke alternative penempatan dana yang beresiko seperti kredit.

Biarlah bank jangan hanya bermain aman dengan menyalurkan dananhya ke SBI atau obligasi pemerintah, walaupun mereka tetap untung karena bunga simpanan memang relative rendah. Toh, bank itu kan harus berkontribusi dalam pembiayaan sektor riil, jangan terlalu paranoid atau bermain aman saja. Lagian sistem penilaian kesehatan bank lebih memberikan apresiasi kepada bank yang manajemen resikonya baik. Investasi beresiko kalau dibarengi manajemen resiko yang baik tidak akan menyebabkan kesehatan bank menurun.

Halaman demi halam pun dibuka. Ketika melihat perkembangan tingkat suku bunga, pikiran pun belum tertarik. Memang secara rata-rata tingkat suku bunga kredit turun tipis, namun itu pun untuk kredit modal kerja jadi 12,02%, sedangkan kredit investasi naik tipis menjadi 11,63%, bahkan kredit konsumtif malah naik drastis dari 13.62%  ke 14.13%. Kalao toh ada penuruan bunga kredit, itu lebih disebabkan bank menekan bunga simpanan yang malah cenderung turun secara rata-rata, baik untuk giro di level 2,36%, tabungan 2,13%, dan deposito pada kisaran 5,76% sampai 6,74% tergantung jangka waktunya. Kalo toh ada keanehan, kok bunga tabungan lebih rendah ya dibanding giro. Tapi, memang perbankan Indonesia sering mengalami anomali. Mungkin saja itu didasarkan analisis struktur atau komposisi sumber dana masa lalu dan target di masa datang.

Mata mulai terbelalak saat mencermati data perkreditan. Ternyata dari total kredit bank umum sebesar Rp 2266,2 Triliun. Ke sektor mana saja sih larinya kredit tersebut. Ternyata Indonesia sektor yang paling banyak diguyur kredit adalah Perdagangan besar dan eceran sebesar Rp 381,4 Triliun, disusul oleh sektor Industri Pengolahan (Rp 359,0 Triliun), Real Estate, Penyewaan, dan Jasa (Rp 122,9 Triliun), Perantara Keuangan (Rp 116,3 Triliun), serta terakhir sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan (Rp 115,1 Triliun). Kasihan sektor pertanian makin tergusur atau kurang menarik di mata para bankir. Mudah-mudahan kondisi perkreditan seperti itu tidak membuat pertanian Indonesia semakin terpuruk.

Saat mencapai halaman 163,  mata semakin melotot ketika mencermati alokasi kredit per lokasi. Wuihhhh,  total kredit yang mengguyur Jakarta sebesar Rp 1113,6 Triliun atau 49,14% dari total kredit secara nasional. Kredit tersebut  terdiri dari Rp 874,4 Triliun untuk lapangan usaha dan Rp 239,2 Triliun untuk bukan lapangan usaha. Bahkan, kredit untuk rumah tangga di Jakarta saja mencapai Rp 164,9 Triliun (di luar bukan lapangan usaha lainnya), atau masih lebih besar dari total kredit ke sektor pertanian secara nasional.

Wah, Jakarta banjir uang juga ya. Sebentar, itu untuk alokasi kredit. Lalu bagaimana dengan penghimpunan dananya, apakah Jakarta juga dominan? Saya pun balik lagi ke halaman awal yang merinci lokasi perhimpunan dana.

Hasilnya ternyata sesuai dugaan juga. Dana masyarakat- atau lebih populer disebut DPK (Dana Pihak Ketiga) yang berhasil disedot bank umum mencapai Rp 2826 Triliun. Lokasi penghimpunan DPK tersebut terkonsentrasi di Jakarta, yaitu sebanyak 49,91%, disusul Jawa Timur (9,04%), Jawa Barat (7,97%), Jawa Tengah (4,58%), dan Sumatera Utara (4,55%). Provinsi di luar Jawa jauh tertinggal, misalnya Kalimantan Timur (2,59%), Sumatera Selatan (1,89%), Riau (1.72%), Sulawesi Selatan (1,64%), dan Bali 1,66%.

Hampir 50% dana bank berputar di Jakarta (doc pribadi)

Bagian akhir itulah yang paling menarik, walau itu masalah klasik, yaitu Jakarta memang menjadi pusat perputaran uang di Indonesia.

—-

Tulisan Terkait:

Jakarta Banjir Transaksi Digital

Ditulis Oleh

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pasca.gunadarma.ac.id/pasca

One Response to “Jakarta (Masih) Gudang Uang”

Leave a Reply