Wadah Menulis Mahasiswa

Menulis? Siapa Takut!

May 24th, 2012 | by | in Catatan Kuliah, Headline | 25 Comments

Bulan September 2012 nanti, kewajiban buat artikel di jurnal nasional bagi lulusan program pascasarjana mulai berlaku. Setidaknya itu harapan yang tertuang dalam Surat Edaran dari Dirjen DIKTI Nomor 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012 yang naskah lengkapnya dapat dilihat di sini.

Haruskah mahasiswa magister takut dengan Surat Edaran ini?

Surat tersebut menjadi bahan perdebatan. Kubu pro dan kontra pun perang wacana dan opini demi menyuarakan pendapatnya masing-masing. Banyak yang berpendapat bahwa kewajiban tersebut belum tepat diterapkan pada lulusan sarjana.  Perdebatan lebih keras pun lebih menyeruak pada program sarjana, yang salah satu argumentasi penolakannya adalah urgensi dan kesiapan di lapangannya.

Kita kesampingkan dulu pro dan kontra pada program sarjana. Kini pertanyaannya, apakah mahasiswa magister lebih siap, atau tidak mempermasalahkan kewajiban tersebut?

Ada yang berpendapat bahwa mahasiswa program magister relatif lebih siap dan mampu membuat makalah atau artikel ilmiah yang layak dipublikasikan di jurnal nasional. Apalagi wawasan dan pengalaman akademik mahasiswa magister tentu dianggap lebih baik. Persoalannya adalah apakah budaya menulis di program magister sudah muncul atau setidaknya dipupuk saat kuliah? Jika tidak, dan diasumsikan ketika sebelumnya saat kuliah di S1 pun tidak dilatih membuat artilel, maka kewajiban membuat makalah bagi lulusan magister pun akan terasa sama beratnya dengan lulusan sarjana.

Lalu, mestikah kita takut menulis artikel?

Membuat artikel memang perlu waktu dan latihan, namun bukan sesuatu yang perlu ditakutkan. Saya mencoba sedikit berbagi tips, walaupun bukan tergolong penulis handal atau sering membuat artikel. Anggaplah ini sebagai proses pembelajaran bersama agar kita mulai dan terus berlatih menulis artikel.

Pertama, menulis adalah ketrampilan yang perlu diasah sejak dini. Kadang kita terlena dengan berkomunikasi lisan saja. Pada saat tertentu, komunikasi lewat tulisan pun menjadi satu-satunya pilihan. Bukankah dokumen resmi perusahaan – misalnya laporan, berita acara, atau jenis dokumen lainnya – berisi tulisan?

Untuk itu, mulailah berlatih menulis sekarang, jika memang sebelumnya jarang menulis. Tidak perlu muluk-muluk membuat artikel ilmiah yang tentunya sarat dengan kaidah-kaidah penulisan atau etika ilmiah. Tulis saja dahulu apa yang ada di kepala. Biarkanlah jari-jari kita menari-nari karena dikendalikan oleh ide atau apa saja yang terlewat di pikiran kita. Kita bisa menulis kejadian menarik sehari-hari. Lihatlah saat ini di sekeliling Anda. Bukankah banyak bahan untuk dituliskan, setidaknya dalam bentuk reportase atau opini kita terhadap suatu perstiwa atau pendapat orang lain

Kedua, jangan takut bermain kata-kata lewat tulisan. Jika masih belum mau dibaca orang lain, setidaknya tulisan uneg-uneg atau catatan kecil bisa dituliskan di komputer pribadi. Bahkan, kita bisa menuliskan kembali apa yang disampaikan oleh Dosen saat kuliah. Buatlah catatan-catatan kecil atau rangkuman saat dosen menjelaskan secara lisan.

Ketiga, tulisan membantu kita saat lupa. Maksudnya, saat kita mendengar informasi penting atau ada peristiwa menarik, mungkin pada saat itu juga kita merekamnya dalam memori kita. Namun seiring waktu, informasi atau peristiwa itu hilang ditimpa informasi atau peristiwa lainnya. Akhirnya kita pun lupa. Jadi jika ada sesuatu yang menarik, tuliskanlah saat ini juga. Tidak ada salahnya kita membuat catatan kecil atau buku harian selama kita kuliah.

Keempat, membaca lalu menulislah. Ketika kita membaca tulisan orang lain, kadang terbersit sikap atau pendapat kita tentang tulisan tersebut, baik setuju ataupun tidak. Pendapat atau sanggahan kita terhadap tulisan orang lain pun bisa menjadi bahan tulisan tersendiri. Siapa tahu kita bisa menambahkan data atau informasi lain, atau setidaknya mempunyai sudut pandang yang berbeda dari tulisan orang lain tersebut. Selain itu, sering membaca tulisan orang lain pun bisa belajar tentang gaya atau cara penulisannya.

Kelima, mulailah menulis di media online. Niatnya adalah untuk berbagi pengetahuan atau pengalaman, juga memperoleh umpan balik, atau saran dari orang lain. Jika masih takut dengan topik berat, mulailah dengan menulis pengalaman menarik atau yang ringan-ringan saja. Misalnya, suka duka kuliah malam, atau kejadian lucu dan menarik saat kuliah malam. Tulisan reportase tentang kejadian sehari-hari pun bisa menjadi tulisan menarik.

Kalau toh ada prinsip yang harus ditaati adalah etika penulisan di media online. Untuk soal tersebut, kita bahas nanti saja. Intinya menulislah tanpa melanggar etika atau perundangan yang berlaku. Yang paling aman, jangan sebutkan nama atau lembaga jika kita tidak punya data akurat, pun jangan menulis tentang sesuatu yang sensitif, misalnya menyangkut SARA atau pornografi.

Keenam, mulailah membaca tulisan-tulisan populer di koran yang materinya mulai mengarah ke perkembangan IPTEKS atau sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari di kampus. Selain menambah wawasan dan pengetahuan, kita pun bisa belajar tentang cara penyusunan kalimat atau gaya menulis dari penulisnya. Coba buat ringkasan dengan bahasa kita sendiri dari tulisan tersebut. Ingat, jangan tergoda untuk melakukan copas atau menyalin seratus persen tulisan orang lain.

Ketujuh, mulailah menulis dengan materi yang sesuai dengan bidang ilmu yang sedang dipelajadi di kampus. Untuk hal ini, presentasi atau diskusi di kelas bisa menjadi bahan tulisan. Namun, jangan lupa menambahkan informasi atau rujukan lain. Cara sederhana adalah, carilah sumber bacaan lain berdasarkan kata kunci atau istilah yang anda jumpai saat kuliah.

Rasa penasaran atau usaha untuk menggali lebih jauh tentang topik-topik yang mungkin hanya dibahas sekilas saat kuliah, akan menjadi modal utama dalam menulis dengan materi akademis yang lebih berat dan mendalam. Jika perlu, biasakanlah mencari data atau informasi pendukung. Saat dosen menjelaskan e-electronic banking – namun cuma sekilas- kita jangan ragu untuk mencari rujukan lain tentang definisi e-banking, atau peraturan perundangan yang terkait. Bukankah apapun ada di internet? Namun, sekali lagi, jangan lupa dengan etika ilmiah saat mengutip dari sumber lain.

Kedelapan, mulailah membuat tulisan populer tentang bidang ilmu yang anda kuasai saat ini. Sekali lagi, niatkanlah kegiatan menulis itu sebagai ajang pembelajaran bagi diri sendiri, syukur-syukur tulisan kita bermanfaat bagi orang lain. Sekali lagi, lihatlah cara dan gaya orang lain menulis, setidaknya anda punya preferensi atau menyukai gaya menulis dari seseorang. Ingat, gaya dan cara menulis pun bisa bermacam-macam. Silakan gaya atau cara menulis seperti apa yang cocok dengan diri kita masing-masing.

Saat membuat tulisan populer yang dipublikasikan secara online – misalnya di blog pribadi, graha pasca, atau bahkan di media online atau cetak- ada baiknya kita mulai mempelajari kaidah bahasa yang baik dan benar. Saya sendiri kadang masih melupakan hal tersebut, namun tidak ada salahnya kita terus mengasah cara menulis sesuai kaidah bahasa yang benar. Panduan utama saya adalah struktur SPOK (subyek, predikat, obyek, dan keterangan) saat membuat sebuah kalimat.

Saya pun kadang menulis kalimat sederhana dan pendek saja, yang penting, minimal, ada unsur SPO-nya. Kadang saya terjebak menulis kalimat panjang yang bisa membuat orang lain terengah-engah saat membacanya. Saya pun mulai memecah kalimat panjang (kalimat majemuk yang sering bertingkat-tingkat) tersebut menjadi dua atau tiga kelimat pendek dan sederhana. Jika kalimat-kalimat pendek tersebut dibaca maka maknanya sama saja dengan satu kalimat panjang.

Sesekali kita bisa berlatih membuat kalimat majemuk. Intinya, buatlah variasi kalimat agar tulisan kita lebih menarik. Saran saya, saat pertama kali menulis, kita jangan khawatir atau takut dulu dengan kaidah bahasa. Seperti saran sebelumnya, beranilah menulis dulu. Seiring waktu, kita mulai mempelajari kaidah-kaidah bahasa tersebut.

Kesembilan, setelah tulisan pertama kita muncul, kadang kita membacanya lagi. Mulailah kita membenahi tulisan kita saat kita mempunyai waktu luang. Istilahnya, mulailah menyunting (editing) atau memperbaiki kesalahan ketik [catatan: dalam tulisan ini pun berserakan salah ketik atau kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa]. Memang ada pendapat bahwa yang penting isi atau pesan kita bisa ditangkap oleh pembaca, walaupun kita tidak mengindahkan kaidah bahasa.

Bahasa adalah seni bermain kata-kata. Tulisan pun adalah cara berkomunikasi dengan orang lain. Namun, tidak semua isi dan pesan kita bisa dibaca oleh orang lain persis seperti yang kita maksud. Dan itu bisa disebabkan oleh kaidah penulisan yang sulit dimengerti. Oh iya, sering-sering lihat arti kata atau kosa kata baku di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang bisa diakses di sini. Situs tersebut sangat bermanfaat untuk mencari kata-kata baku yang mungkin jarang kita temui.

KBBI Daring, sesekali manfaatkanlah situs ini

Kesepuluh, setelah kemampuan menulis kita mulai terasah, mulailah melihat atau membaca artikel ilmiah, misalnya yang ada di internet. Ingat, banyak artikel ilmiah gratis dalam bentuk jurnal ilmiah atau prosiding ilmiah yang dipublikasikan secara online. Kita tidak perlu memikirkan materinya yang mungkin saja sulit dipahami. Pelajarilah sistematika atau format penulisannya saja terlebih dahulu. Bagaimana mereka membuat abstak. Apa saja yang tertulis di pendahuluan (rumusan masalah, tujuan, dan lain-lain). Kita cermati alur kalimatnya saja dulu. Kita bisa mencontoh alur tersebut saat belajar membuat artikel ilmiah sendiri.

Jika kita mulai mencoba memahami materi artikel ilmiahnya, carilah artikel ilmiah yang sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari, atau misalnya artikel yang sesuai dengan materi kuliah yang dibahas di kelas. Buatlah ringkasan atau setidaknya, kutiplah pernyataan menarik dalam artikel tersebut. Siapa tahu pernyataan tersebut bermanfaat saat kita menyusun thesis nanti, misalnya ditempatkan di latar belakang masalah, atau di Bab landasan teori atau tinjauan pustaka.

Kita pun bisa menyarikan isi artikel dengan bahasa kita sendiri, atau dikenal dengan teknik paraphrase. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber kutipannya sesuai kaidah ilmiah. Soal teknik mengutip ini, mudah-mudahan bisa dibahas dalam tulisan lain nanti. Yang paling gampang, tulisakanlah nama dan tahunnya saja, misalnya Hermana (2012), atau dalam tulisan online bisa dicantumkan tautan atau link ke sumber tulisannya.

Kesebelas, mulailah membuat artikel ilmiah sendiri. Pertanyaannya, dari mana sumber atau bahan tulisannya? Ada banyak cara, mulai dari yang sederhana, misalnya berdasarkan telaah pustaka (atau bahasa kerennya hasil meta-analysis) sampai ke riset kecil bahkan “jelimet”. Dengan melihat artikel ilmiah di jurnal, kita bisa melihat bagaimana sistematika atau alur penyajian tulisannya. Untuk artikel ilmiah yang bersifat empiris (baca: berdasarkan hasil penelitian) maka kita pun bisa membuatnya seperti itu setelah kita melakukan riset.

[Sebagai pemanasan menyusun Thesis nanti, silakan melihat tulisan berikut:“Menyusun Thesis Seminggu, Bisakah?”]

Jika Anda belum sampai ke tahap riset, ada baiknya berdiskusi dengan dosen anda di kelas, atau mulai mencari tentang riset atau metode penelitian. Kita bisa kok membuat riset kecil-kecilan dengan waktu cepat dan relative tanpa biaya. Intinya adalah cara berpikir ilmiah atau penguasaan metodologinya. Jika saat ini kita masih bingung dengan hal tersebut? Ada baiknya anda sering berdiskusi dan bertanya kepada teman atau dosen. Jadi, mulai sekarang, manfaatkanlah kuliah di kelas sebagai ajang bertanya atau berdiskusi dengan teman atau dosen, termasuk bertanya tentang proses penelitian, metodologi, dan teknik menulis artikel.

*****

Itulah tulisan “ngalor-ngidul“ tentang tips menulis. Bukan untuk menggurui, apalagi merasa sudah bisa menulis. Anggaplah ini sebagai niat berbagi dan belajar bersama saja. Saya hanya mencoba untuk tidak takut menulis dan akan terus mengasah kemampuan menulis.

Jadi, kembali ke judul tulisan ini: ‘Siapkah kita menulis?”. Mudah-mudahan jawabannya: “Siapa takut!”.  
___

Tulisan terkait:

  1. Jurnal Jadi Syarat Lulus, Setuju?
  2. Kebijakan Unggah Karya Ilmiah, Efektifkah Mencegah Plagiat?
  3. Ngeblog, Bisakah Jadi Artikel Ilmiah?
  4. Peneliti Itu Tukang “Fitnah”

Ditulis Oleh

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pasca.gunadarma.ac.id/pasca

25 Responses to “Menulis? Siapa Takut!”

  1. Maulidia says:

    menarik sekalinya judul dari di atas ‘Menulis? Siapa Takut! ‘menurut saya sebaiknya menulis itu di jadikan budaya sehingga hasil2 pemikiran bisa tertuang dalam sebuah wadah yang dapat di jadikan acuan dalam melatih dalam kemampuan seseorang dalam membuat suatu karya tulis misalnya dengan menulis di blog ataupun di website pribadi hal ini akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya . Ada pepatah yang sangat menarik yaitu ” ikatlah ilmu dengan menuliskannya” maksudnyaa jika kita mempunyai sesuatuhal yang sekiranya bermanfaat tidak ada salahnya kita dapat menuliskannya dan menuangkan yaa kepada media sosial agara dapat disaharing kepada para pembaca dengan demikian maka akan dapat respon dan masukan dari beberapa orang yang telah membacanya.

  2. Bismillah..
    Sebelumnya, terima kasih atas postingan tulisan diatas bisa menambah wawasan bagi pembacanya. Saya sangat tertarik dengan tulisan diatas yang berjudul “Menulis? Siapa Takut!”. Memang betul, mungkin bagi semua orang menulis itu adalah hal yang “menakutkan”. Menakutkan dalam arti sulit untuk menulis kalimat per kalimat yang khawatir nanti salah EYD nya atau tidak relevan dengan judul. Tetapi seperti yang dikatakan diatas pada tahap kedua yakni jangan takut bermain kata-kata lewat tulisan. Kalupun ada salah-salah itu hal yang wajar, toh kita bisa belajar dari kesalahan tersebut. Menurut saya, kekhawatiran-khawatiran tersebut bisa kita lawan dengan kemauan dari dalam diri serta motivasi kita untuk terus berkarya. Kalau sudah ada kemauan, maka motif-motif untuk menulis pun muncul.
    Kita bisa memulai dari hal-hal yang sederhana seperti menulis di buku harian tentang kejadian-kejadian yang kita alami. Kemudian kita bisa gali lagi pengetahuan kita dengan banyak membaca, sehingga kita bisa menulis lebih baik lagi.
    Menulis itu hal yang menyenangkan lho kawan.Yuk kita latih dan gali kemampuan menulis kita! Keep reading and writing! (^_^)

  3. Rizki Akbar says:

    menulis? mungkin sejenak terlintas mudah namun ketika kita mencoba untuk membuat sebuah tulisan amatlah susah untuk merangkai sebuah kalimat. Seorang sarjana ataupun magister sekalipun jika tidak sering menulis mungkin masih memiliki kesalahan penulisan dalam penggunaan EYD. Apabila pemerintah mewajibkan lulusan pascasarjana membuat artikel, alangkah baiknya pemerintah menerapkan kurikulum tentang pembuatan sebuah artikel untuk berlatih sejak di bangku sekolah.

    • Graha Pasca says:

      Rizki mungkin ingat sejak bangku sekolah dasar pelajaran mengarang cerita diberikan pada Bahasa Indonesia, mungkin itu yang dimaksud Rizki, Terima kasih atas komentarnya

  4. saya setuju jika menulis di jadikan budaya dari hidup sehari2 kita maksudnya disini adalah kita bisa menuangkan hasil2 pemikiran yang telah kita temukan lalu menulis untuk mengingatya kembali ,atau kita sharing ilmu pun bisa dengan menulis supaya orang lain bisa tau dan memahami apa yang kita telah tulis dengan memenfaat kan dunia teknologi onformasi misalnya web pribadi ataupun bloger dan sebagainya

  5. Wahab says:

    menulis memnag sangat berguna bagi kita yang ingin menuangkan hasil ide yang telah kita miliki sehingga kita tidek perlu mengingat tapi cukup menuliskanya saja lalu kalo lupa tinggal membacanya kembali ,itu lah manfaat hasil yang kita telah tuliss, mari kita berbagi ilmu dan saring pengalamn pribadi dengan menuliskannya sehingga bisa bermanfaat bagi orang banyak.

  6. Menurut saya, menulis memang sangatlah penting, apalagi jika kita adalah kalangan akademisi, baik dosen maupun mahasiswa karena kalangan akademisi haruslah mempunyai banyak penelitian yang tentu saja dituangkan dalam bentuk paper.
    Kalau kita lihat dari edaran surat DIKTI memang minat untuk sering menulis masih sangat kurang, banyak dari kita menulis jika hanya disuruh atau ada tugas saja, sehingga mau tidak mau kita harus menulis. Padahal menulis ini harus merupakan niat sendiri dan lebih baik lagi bila menjadi hobi.
    Menulis itu selain bermanfaat menambah wawasan sang penulis, juga bermanfaat untuk orang banyak yang membaca tulisan sang penulis tersebut. Maka terjadilah saling berbagi ilmu dimana sang pembaca pun dapat berdiskusi melalui komentar pada tulisan tersebut. Selain itu semakin banyak orang yang menulis lalu membagi tulisannya di internet, maka akan memotivasi orang yang tadinya tidak mau menulis, menjadi mau menulis. Maka jika hal tersebut dapat berjalan dengan baik maka kemauan menulis pun tak akan menjadi masalah lagi.

  7. sangat tertarik dengan artikel ini..
    menulis? siapa takut!
    Pada dasarnya menulis itu mencurhkan kata-kata yang tidak bisa kita ucapkan, maka dari itu kita lebih memilih untuk menulis. Menulis itu sebenarnya menyenangkan dari menulis kita dapat menuangkan apa saja yang ada di unek-unek .
    Seperti yang ditulis pada tahap ke 2 janganlah takut bermain kata kata pada tulisan sama hal nya, ketika saya membaca salah satu novel dan salah satu tokoh di novel tersebut berkata demikian “nulis itu nggk usah pake mikir, biarin aja kata-kata yang ada mengalir seperti air”
    Dengan demikian apabila semua orang berfikir begitu, menulis pun akan terasa sangat mudah sekali.

    • Graha Pasca says:

      Inspirasi dari membaca novel dilanjutkan dengan menulis apa yg dipikirkan tanpa perlu berpikir mudah-mudahan menjadi seperti air mengalir dalam menulis, terasa sangat mudah..begitu mungkin yang terpikir oleh Fitri tentang menulis…Terima Kasih.

  8. Yusniari Sinaga says:

    MENULIS.. ya kata itu terdengar begitu simpel, sederhana dan mungkin banyak orang yang memberi penilaian kalau menulis itu adalah hal yang lumrah dilakukan oleh segenap raga yang bersekolah, jadi semua orang pasti bisa menulis karena telah melaluinya bertahun-tahun. Tepat sekali bahwa menulis itu merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam penyebaran ilmu maupun pengetahuan seseorang terhadap orang lain. Fasilitas internet merupakan sarana yang cukup instan sebagai penunjang penyebaran maupun penyerapan ilmu/pengetahuan tersebut. Dan memang sudah banyak orang yang melakukannya. Menulis itu merupakan seni bermain kata-kata. Kalau kita belum mahir dalam kegiatan pembuatan karya ilmiah, kita bisa kok memulainya dari hal yang paling sederhana seperti menuliskan kesan yang kita alami di suatu hari. Setelah tulisannya selesai, kita ambil langkah berikutnya dengan melakukan koreksi apakah ejaan penulisannya sudah tepat, apakah tiap sesi yang dituliskan sudah bersifat koheren sehingga menimbulkan penalaran yang dapat dijangkau oleh si pembaca dsb. Kalau hal ini sering dilakukan dan berjalan dalam tahapan bertingkat (berisi tulisan dasar-menengah-berbobot) maka tidak akan ada lagi kekakuan dalam melakukan kegiatan menulis, sebaliknya akan membudaya dalam diri kita. Sehingga saat mendapati tugas untuk membuat tulisan (menulis), maka dengan sigap kita akan menjawab “Siapa Takut!”. Sikap kemauan, kesabaran dan loyalitas lah yang perlu ditingkatkan untuk mencapainya.

  9. Bismillah..
    Sebelumnya, terima kasih atas postingan tulisan diatas bisa menambah wawasan bagi pembacanya. Saya sangat tertarik dengan tulisan diatas yang berjudul “Menulis? Siapa Takut!”. Memang betul, mungkin bagi semua orang menulis itu adalah hal yang “menakutkan”. Menakutkan dalam arti sulit untuk menulis kalimat per kalimat yang khawatir nanti salah EYD nya atau tidak relevan dengan judul. Tetapi seperti yang dikatakan diatas pada tahap kedua yakni jangan takut bermain kata-kata lewat tulisan. Kalupun ada salah-salah itu hal yang wajar, toh kita bisa belajar dari kesalahan tersebut. Menurut saya, kekhawatiran-khawatiran tersebut bisa kita lawan dengan kemauan dari dalam diri serta motivasi kita untuk terus berkarya. Kalau sudah ada kemauan, maka motif-motif untuk menulis pun muncul.
    Kita bisa memulai dari hal-hal yang sederhana seperti menulis di buku harian tentang kejadian-kejadian yang kita alami. Kemudian kita bisa gali lagi pengetahuan kita dengan banyak membaca, sehingga kita bisa menulis lebih baik lagi.
    Menulis itu hal yang menyenangkan lho kawan. Yuk kita latih dan gali kemampuan menulis kita! Keep reading and writing! (^_^)

    • Graha Pasca says:

      Benar Rizki…belajar dari kesalahan jadi dapat menghilangkan kekhawatiran untuk mulai menulis sehingga menjadi hal yang menyenangkan..Terima kasih atas komentarnya…

  10. Menulis?? Siapa takut??
    Bagi saya, menulis bukanlah hobi melainkan kebutuhan. Bagi sebagian orang yang belum merasakan kesenangan dalam menulis mungkin menganggap menulis itu adalah hal yang menakutkan. (emang dikira hantu??). Benar, menulis itu akan menjadi hal yang menakutkan karena dari awal kamu sudah takut. Tapi, menulis akan menyenangkan kalau kamu menikmatinya.
    Merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat, ibaratkan merangkai puzzle. Mungkin ditengah-tengah akan merasa bingung, tidak ada ide, semakin lama semakin penasaran. Di saat itulah, otak kamu akan bekerja mencari cara untuk menyelesaikannya. Setelah selesai, kamu akan merasa percaya diri, bangga akan karyamu, dan senang. Bukan hanya itu, semakin banyak menulis berarti kamu telah melatih otakmu untuk menuangkan ide-ide segar dalam rangkaian kata yang indah.. Begitu banyak manfaat dari menulis. Jadi, tunggu apa lagi?? Selamat menulis!

    • Graha Pasca says:

      Terima Kasih atas komentarnya…mudah-mudahan kebutuhan untuk menulis bisa menjadi kebutuhan juga untuk orang yang membaca…teruslah menulis Wardah…

  11. Menulis adalah melahirkan ide atau gagasan melalui tulisan. Menulis itu jalan terbaik untuk bisa berbicara dan menyampaikan protes pada orang – orang yang bersangkutan bukan 1 orang saja bahkan ratusan orang yang ada disekitar kita. Dengan menulis suara hati kita bisa menjangkau tempat – tempat jauh yang tidak terbayangkan. Menulis merupakan sebuah amal dan akan terus-menerus mengalir untuk kita atau semua orang-oran.Menulis itu juga termasuk cara untuk menjadikan diri kita menjadi lebih bermakna, pikiran segar setelah kita menuangkannya baik disehelai kertas, elektronik bahkan di Media Cetak.

  12. Terima kasih atas ilmunya, mulai saat ini saya akan mencoba menulis.

  13. mungkin menulis buka sesuatu yang asing lagi bagi para mahasiswa karena dari awal kita masuk sekolah sampai sekarang kita sudah belajar menulis, tetapi dalam menulis juga ada tata cara yang harus dilakukan agar tilisan kita bagus dan enak untuk dibaca dan mudah untuk dipahami, maka dari itu kita perlu berlatih menulis.

  14. Andikawati says:

    Semoga bermanfaat.
    Menurut saya , setiap orang memiliki kemampuan belajar dan bisa menguasai bidang apapun. Termasuk menulis. Menulis itu bukan bakat, tapi kemampuan yang dibiasakan, diasah, dan dilatih terus-menerus hingga menjadi keahlian.
    Urusan menulis akan menjadi sederhana bila kita mulai dengan menulis sesuatu yang kita sukai , yang kita tahu, yang kita kuasai, dan yang dekat dengan kita secara jujur dan total.
    Banyak-banyaklah membaca kawan, karena itu memperkaya referensi dan style kita dalam menulis.
    Jadi, jangan takut untuk menuangkan ide dan jangan takut untuk menulis. Harus banyak menulis, karena menulis butuh jam terbang dan pembiasaan agar lancar.
    Ayo semangat kawan untuk banyak membaca dan menulis!

Leave a Reply