Wadah Menulis Mahasiswa

Menyusun Thesis Seminggu, Bisakah?

May 26th, 2012 | by | in Edukasi, Headline | 2 Comments

Memang jaman sudah berubah, atau sayanya yang tidak mengikuti jaman. “Gak mungkin Pak“, celetuk mahasiswa yang duduk paling belakang. “Mencari data aja bisa seminggu Pak“, tambah mahasiswi yang datangnya paling akhir dan langsung duduk di deretan depan. “Mencari jurnal itu aja susah, bayar lagi Pak!“, celetuk mahasiswa berkaca mata minus.  “Data bank itu rahasia Pak, susah dapetnya“, imbuh mahasiswa yang mengaku sebagai Account Officerdi sebuah bank swasta nasional. Begitulah mereka kompak dan menolak pancingan saya bahwa thesis bisa selesai dalam satu minggu.

Nostalgia

Kalimat kedua pun terucap dari mulut saya, “Itu dulu“. “Sekarang anda semua berada di jaman yang serba mudah“, lanjut saya. Saya pun bernostalgia dan berbagi pengalaman ketika menyusun skripsi di tahun 80-an. Internet belum semarak seperti sekarang.  “Saya mengetik skripsi di mesin tik Brother lho“. Saya tidak yakin apakah mereka pernah melihat mesin tik yang selalu membuat koor bunyi cetak-cetok setiap malam di kost-kostan mahasiswa ketika itu. Kadang terdengar sumpah serapah di kamar sebelah ketika salah ketik. Tak ada satu pun halaman dradt skripsi bebas dari “Tip-X“. Bintik-bintik putih pun berserakan di lembaran kertas kusam yang kadang masih terlihat serat-serat kertasnya.

Perjuangan mengetiknya tidak lebih berat dari memburu referensi. “Saya lupa berapa hari saya harus bolak balik ke perpusatkaan LIPI yang ada di Gatot Subroto“. Terbayang ketika itu Jakarta tidak sesumpek atau macetnya gak ketulungan seperti sekarang. “Saya pun harus berburu jurnal international di beberapa PTN“. Bogor – Jakarta pun menjadi route pavorit di semester akhir. Terbayang saya dan teman duduk lesehan sambil bersenda gurau di gerbong KA Jabotabek. Kini berdiri aja susah di Gerbong Kereta, jumlah stasiun dan frekuensi keberangkatannya pun lebih banyak.

Opskok malah melantur. harusnya saya diskusi tentang topik riset di perbankan. Mahasiswa nya pun masih terbengong-bengong. Mungkin terlintas di kepala mereka, “Enak banget ya jadi dosen, cuma cerita masa lalu saja jadi bahan diskusi“.  Maaf ya mahasiswaku. Kilas balik tersebut hanya sekedar ilustrasi bahwa memang kita perlu kerja keras untuk meneliti, namun masih ada kemudahan-kemudahan yang dapat dimanfaatkan di era digital saat ini.

Tiga Serangkai dan Mind Map

Thesis adalah laporan penelitian“, saya akhirnya berhasil kembali ke topik diskusi. Jadi pekerjaan kita yang pertama adalah meneliti, kemudian menuliskannya. “Meneliti” dan “Menulis” seperti dua sisi mata uang. Harus ada keduanya. Meneliti tanpa menulis membuat orang lain tidak tahu hasil penelitian kita. Itulah tujuan utama publikasi hasil riset, selain sebagai bentuk keterbukaan dan pertanggungjawaban seorang peneliti di dunia akademisi. Dua sisi mata uang itu- “Meneliti” dan “Menulis”, terletak pada fondasi “Berfikir”. Jadi sekarang kita mempunyai tiga kata kunci, yaitu “berpikir”, “meneliti”, dan “menulis”.

 

Mind Mapping atau peta konsep, cara ampuh berpikir sistematis

Thinking is hard but there is no substitute for it”, saya kutip wejangan dari Prof H.T. Kung dari Harvard. Saya pun teringat dengan Theory of Thinking – yang konon istilah tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Bion pada tahun 1962, atau Thinking Styles dari Dr. Karl Albrecht.

Namun saya tidak akan berkutat dan menjejali mahasiswa/i dengan konsep atau teori berpikir dan menulis yang jelimet dulu. Kok mikir aja pake teori ya. Nanti saya dan mahasiswanya malah mumet. Lagian ini baru pertemuan pertama. Warming up dululah. Biarlah proses pemahaman tentang itu mengalir dimulai dari setitik air- yang mudah-mudahan terpancar pada diskusi kali ini. Soal riak, gelombang, bahkan badai dalam lautan ilmu pengetahuan, biarlah mereka yang mengarunginya sendiri.

Dunia pengetahuan begitu luas, bahkan tak terbatas. Hati kecil pun berharap, semoga mereka tidak menganggap dosen sebagai sumber ilmu satu-satunya. Mereka bisa berguru di mana saja, dari siapa saja, dan kapan saja. Saya pun selalu berpendapat dosen tidak selalu benar. Benar atau tidaknya seorang dosen bisa dikonfirmasi atau dikonfrontir  oleh mahasiswa melalui sifat kritis dan skeptis. Dan saya pun hanyalah berupaya untuk berperan sebagai fasilitator dan teman diskusi buat para mahasiswa.

Banyak pikiran di kepala, tapi susah menuangkannya pak!“, interupsi seorang mahasiswa. ”Cobalah buat Mind-Mapping“, balas saya.   Intinya kita berupaya merekonstruksi bangunan sebuah ide sehingga membentuk jalinan konsep-konsep yang menyusun atau berkaitan erat dengan ide tersebut. Kita buat visualisasinya dalam bentuk diagram yang menyajikan kata kunci, makna, teori, konsep, atau item lainnya yang saling terhubung dan membentuk jejaring di sekeliling kata kunci utama atau ide anda.

Saya pun mulai menggali berbagai ide atau gagasan yang mungkin ada di benak mahasiswa/i. Mereka tersenyum, saling berpandangan, dan saya pun menunggu respon mereka. Akhirnya ruangan kelas yang mulai terasa dingin pun mulai ramai dengan ucapan mereka,  “Peran Islamic Banking di Indonesia Pak“, “Saya tertarik dengan E-Banking Pak“, “Bedanya CAMEL dengan CAMELS  apa ya Pak?”, namun mayoritas dari mereka lebih banyak diam.

Dengan Mind Mapping, Kita bisa merinci dan membatasi topik atau wilayah penelitian

Saya percaya bahwa diam bukan berarti tidak berpikir. Namun saya tidak tahu apa yang mahasiswa/i pikirkan malam tadi. Saya pun memutuskan untuk mengakhiri diskusi.

Oh iya, mungkin mereka belum tahu bahwa penilaian kesehatan dengan metode CAMEL dan CAMELS sudah digantikan dengan RGEC. Apa sih perbedaannya, lihat saja di tulisan berjudul: “Perbandingan Tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank“.

——–

Versi untuk penyusunan Skripsi bisa dilihat di buku:

Melawan Hantu Bernama Skripsi

Tulisan Selanjutnya:

Thesis [2]: State of The Art


Ditulis Oleh

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pasca.gunadarma.ac.id/pasca

2 Responses to “Menyusun Thesis Seminggu, Bisakah?”

Leave a Reply