Wadah Menulis Mahasiswa

Thesis [2]: State of The Art

June 4th, 2012 | by | in Edukasi, Headline | 4 Comments

Sebelum membaca tulisan ini, silakan terlebih dahulu membaca tulisan sebelumnya berjudul:

Menyusun Thesis Seminggu, Bisakah?

—00O00—

“Sudahkah anda mempunyai diagram mind-mapping dari topik penelitian thesis anda?“, begitulah saya membuka diskusi pada pertemuan kedua. Seperti biasanya, mereka hanya tersenyum dan saling melirik. Namun tidak berapa lama mereke mulai bergantian bicara. “Saya susah pak membuat mind-mapping-nya !“, “Sulit menentukan cabang utama dan cabang kecil dari diagram mind-map“, “Mencari kata kunci yang spesifiknya susah Pak!“.

Saya pun balik tersenyum. Terpancar keraguan bercampur keingintahuan dari sorot mata sebagian besar dari mereka. Itulah modal minimal yang utama untuk keberhasilan penelitian. Saya pun selalu berharap semoga mereka tahu akan ketidaktahuannya, dan berusaha menyibak ketidaktahuan tersebut. Sebuah sikap rendah hati dan motivasi utama dalam mencari ilmu.

“Sudahkah anda mempunyai diagram mind-mapping dari topik penelitian thesis anda?“, begitulah saya membuka diskusi pada pertemuan kedua. Seperti biasanya, mereka hanya tersenyum dan saling melirik. Namun tidak berapa lama mereke mulai bergantian bicara. “Saya susah pak membuat mind-mapping-nya !“, “Sulit menentukan cabang utama dan cabang kecil dari diagram mind-map“, “Mencari kata kunci yang spesifiknya susah Pak!“.

Saya pun balik tersenyum. Terpancar keraguan bercampur keingintahuan dari sorot mata sebagian besar dari mereka. Itulah modal minimal yang utama untuk keberhasilan penelitian. Saya pun selalu berharap semoga mereka tahu akan ketidaktahuannya, dan berusaha menyibak ketidaktahuan tersebut. Sebuah sikap rendah hati dan motivasi utama dalam mencari ilmu.

Berpikir Deduktif dan State of The Art

“Sudah saatnya kita membaca lagi!“, papar saya. Membaca merupakan sumber dan potensi energi pengetahuan yang luar biasa. Potensi energi tersebut mudah diperoleh di era internet saat ini. Dunia maya dapat dipandang sebagai sebuah Virtual Class, bahkan Virtual University. Di sana kita bisa belajar tanpa mengandalkan proses belajar-mengajar di kelas.  E-Learning, Distance Learning, Computer Assissted Learning, dan konsep pembelajaran berbantuan ICT pun bermunculan.

Belajar di dunia maya  merupakan keniscayaan yang semakin mengasyikan. Namun, akses terbuka ke dunia digital bukan berarti terbukanya pengetahuan. Semuanya tergantung manusiannya. Klise memang, tapi begitulah internet memberikan pilihan baik dan buruk. Saya mencoba berbagi teknis pencarian “bahan bacaan” yang tesedia di dunia maya. Itulah salah satu sisi positif dari keberadaan internet.

“Membaca hasil penelitian atau teori sebelumnya- yang relevan dengan topik anda, melatih kita berfikir deduktif“, saya mulai berwacana dengan beberapa istilah dalam metodologi penelitian. Kita bukan Newton, yang gara-gara  apel jatuh saja langsung berteriak, “Eureka!“. Dan Hukum Newton pun lahir untuk merubah dunia. Kita pun bukan Archimides, yang gara-gara berendam di air saja dia bisa berfikir dan menemukan teori Archimides. Kita baru sebatas berteriak. “Horeeee ada durian jatuh“, atau langsung berendam di air ketika kepala memanas gara-gara belajar metodologi penelitian.

Newton dan Archimides mengajarkan kepada kita bahwa fenomena di sekitar kita bisa menjadi research question atau pertanyaan penelitian. Sebagian besar teori, ada justifikasi atau konfirmasinya di dunia empiris. Mungkin ratusan, bahkan ribuan orang-orang terdahulu sudah mempublikasikan hasil penelitian tersebut dalam berbagai jurnal atau bentuk publikasi lainnya.  Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita menemukan publikasi  itu, sambil berharap semoga tersedia gratis di internet.

“Hasil penelitian atau teori sebelumnya menjadi alasan dari riset kita“, ujar saya. Alasan itu identik dengan justifikasi, urgensi, latar belakang,  atau kerangka pemikiran yang biasanya disajikan di Bab Pendahuluan, yang kutipan teoritisnya lebih lengkap lagi di Bab Tinjauan Pustaka.  Dalam  konteks metodologi riset, itu disebut premis. Jadi jangan heran dan stress jika pertanyaan penguji atau pembimbing adalah “Apa dasar teori atau hasil penelitian sebelumnya sehingga anda tertarik untuk meneliti topik itu“.

Jadi Anda tidak cukup mengatakan seperti tenaga pemasaran, “Saya tertarik dengan islamic banking karena semakin populer di Indonesia”, namun anda terdiam ketika ditanya, “Kata siapa islamic banking semakin populer di Indonesia, mana datanya?“. Atau mungkin kita tertegun dengan pertanyaan, “Apa yang mendasari ketertarikan anda untuk meneliti struktur pasar perbankan, yang menurut Anda bisa berpotensi merugikan nasabah?“. Anda terdiam dan tertegun karena premis anda tidak ada atau masih kurang kuat. Itulah fungsinya kita mengutip data statistik pendukung di Bab 1 atau kutipan dari Mr X (tahun Y) di kerangka pemikiran atau kerangka teoritis. Carilah puluhan, sebenarnya bisa ratusan bahkan ribuan Mr X, yang telah melakukan penelitian sebelumnya dengan topik yang relevan dengan topik penelitian kita.

Pada tingkat tertinggi penelitian, kajian referensi (hasil penelitian sebelumnya)  bertujuan untuk mengetahui state of the art dari topik penelitian kita. Istilah State of The Art pertama kali didokumentasikan dalam Oxford English Dictionary, “The most recent stage in the development of a product, incorporating the newest ideas and features”. Sedangkan menurut Kamus Online Merriam-Webster, “The level of development (as of a device, procedure, process, technique, or science) reached at any particular time usually as a result of modern methods”.

Dengan state of the art tersebut, kita bisa mengetahui posisi penelitian kita dalam konteks perkembangan bidang keilmuan, termasuk keterkaitannya dengan topik atau bidang ilmu lainnya yang relatif dekat. Ingat bahwa bidang ilmu itu bersinggungan, bahkan cenderung ada konvergensi antar bidang ilmu.  Dengan melihat state of the art, kita dapat menjelaskan tingkat kebaruan atau originalitas dari penelitian kita. Misalnya untuk topik islamic banking, kita harus mampu menggambarkan (idealnya) semua penelitian atau teori yang berkaitan dengan islamic banking. Memang perlu upaya yang luar biasa dalam menyusun state of the art. Banyak akademisi atau peneliti yang mensyaratkan state of the art hanya untuk tingkat penelitian disertasi atau program doktor.

Saya pun bersikap kompromis atau pragmatis dalam hal ini. Artinya, saya tidak terlalu menuntut state of the art yang komprehensif untuk skripsi atau thesis. Calon peneliti cukup mempunyai sejumlah premis yang dijadikan dasar mengapa mereka melakukan penelitian dengan topik tersebut. Biasanya saya hanya menetapkan jumlah minimal jurnal nasional atau jurnal international yang harus menjadi rujukan penelitiannya.

Teknik Pencarian Rujukan di Dunia Maya

“Anda hanya memerlukan waktu beberapa detik untuk menemukan mereka“, saya mulai menantang mereka, sambil harap-harap cemas semoga banyak para peneliti dan penulis yang mengikhlaskan publikasinya diakses secara terbuka di internet. “Ah bapak becanda, mustahil bisa secepat itu“, timpal mahasiswa yang sorot matanya mulai memancarkan pesimisme. Saya pun mulai menuliskan sederatan kalimat di papan tulis, sambil berkata, “Coba Anda tuliskan di Google atau Google Scholar“,

“islamic banking” filetype:pdf site:bis.org

Tak berapa lama, senyum manis dan manggut-manggut pun mewarnai ruangan kelas. “Kok bisa begitu pak?“. Saya pun sekedar tersenyum. Itu teknik pencarian sederhana yang seharusnya sudah mereka kuasai. Semoga bukan gara-gara mereka memanfaatkan internet untuk fesbookan atau BBM-an saja.  Saya pun menampilkan hasil pencarian tersebut di video projector, meskipun koneksi internet agak sedikit ngos-ngosan.

Begitu mudah dan cepat. Internet membuat proses penelitian bisa lebih cepat.

Mereka pun mulai sibuk browsing dan downloading di Notebooknya masing-masing. Tiba-tiba ada pertanyaan, “Pak kira-kira kata kunci apa lagi yang yang harus saya masukan?“. Pertanyaan yang saya tunggu, “Itulah gunanya kata-kata kunci, istilah, atau konsep yang sudah disajikan pada diagram Mind-Map!“. Mind-Mapping membantu kita melakukan pencarian referensi di internet secara sistematis, selain membantu kita membuat sistematika (sub bab) dalam Bab 2 Tinjauan Pustaka. “Cabang Utama” menjadi sub-bab, cabang kecilnya menjadi sub-sub-babnya. Saya pun tahu pasti bahwa mereka harus berpikir untuk menamakan cabang dan ranting dalam diagram mind-mapping. Biarlah itu menjadi pembelajaran mandiri di luar kelas, saya tinggal menunggu presentasi diagram yang telah mereka perbaiki nanti.

Silahkan Anda baca-baca terlebih dahulu, nanti kita buat Meta-Analysis dan Annotated Bibliography-nya!“

—-

Versi untuk penyusunan Skripsi bisa dilihat di buku:

Melawan Hantu Bernama Skripsi

 

Tulisan selanjutnya:

Menyusun Thesis (3): Meta-Analysis

 

Ditulis Oleh

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pasca.gunadarma.ac.id/pasca

4 Responses to “Thesis [2]: State of The Art”

  1. gede agung says:

    Mau tanya nih,

    Saya juga diharuskan untuk membuat mindmap juga selain state of the art.
    Apakah itu ?

    Terima kasih
    Salam,
    gede.agung@imtelkom.ac.id

Leave a Reply