Wadah Menulis Mahasiswa

Menyusun Thesis [4]: Annotated Bibliography

June 12th, 2012 | by | in Edukasi | 2 Comments

Tulisan sebelumnya:

Menyusun Thesis (3): Meta-Analysis

—ooOoo—

“Jumlah artikelnya banyak  banget, mana yang harus saya pilih untuk dibaca?”, tanya mahasiswa di pertemuan ke empat.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya balik bertanya, “Apakah paper itu semuanya sudah masuk dalam meta-analysis?”

“Sudah Pak, tapi baru dibaca sekilas, yang penting kolom-kolom dalam tabel hasil meta-analysis terisi semua!”, jawabnya dengan cepat.

“Mari kita latihan mengutip dan membuat Annotated Bibliography!, sambung Saya.

—ooOoo—

Annotated Bibliography (AB) berarti memberikan catatan, informasi atau ulasan tambahan terhadap sebuah pustaka (bibliography) yang dikutip dalam penelitian kita. Kita lihat dulu pengertian dari pustaka atau bibliography yang standar, yaitu informasi rinci tentang sumber rujukan yang mencakup nama penulis, waktu penerbitan, judul, serta nama dan lokasi penerbitnya. Rincian informasi tersebut biasanya untuk sebuah buku atau textbook. Jika publikasinya berupa jurnal ilmiah maka informasinya mencakup nama peneliti, waktu publikasi, judul artikel, nama jurnal, volume, issue, dan jumlah halaman. Nanti kita dapat melihat daftar rujukan tersebut di Daftar Pustaka.

Jika informasi pustaka tersebut ditambakan dengan informasi atau ulasan lainnya maka itulah yang dimaksud dengan AB.  Jadi AB secara umum adalah deskripsi singkat tentang sebuah rujukan atau kutipan  yang mencakup informasi yang dianggap penting, misalnya masalah dan tujuan penelitian, metodologi, atau kesimpuan hasilnya, yang relevan dengan rencana topik penelitian kita.

Setelah membaca AB, nanti Anda pun bisa menilai apakah artikel tersebut relevan dengan topik penelitian Anda, apakah artikel tersebut mempunyai mutu atau bobot ilmiah yang tinggi, serta apakah artikel tersebut mutakhir atau tidak.  Tidak elok jika penelitian atau artikel Anda hanya mengutip artikel dari koran, majalah, atau sebuah blog pribadi, tanpa ada artikel yang dibuat berdasarkan hasil penelitian empiris. Namun bukan berarti tidak boleh mengutip artikel atau tulisan di sebuah website.

Intinya adalah relevansi dan mutu sumber rujukan, dan jangan lupa, Anda  membaca artikel ilmiah secara langsung, bukan dari tulisan lain yang mengutip artikel ilmiah tersebut.  Artikel ilmiah biasanya dipublikasikan dalam seminar nasional atau international, atau jurnal nasional atau international. Jenis publikasi tersebut sangat menentukan bobot ilmiahnya. Misalnya, artikel pada jurnal international dianggap mempunyai bobot ilmiah yang lebih tinggi dibandingkan jurnal nasional. Jurnal Nasional sendiri mempunyai bobot ilmiah lebih tinggi dibandingkan artikel yang hanya diseminarkan dan tertuang dalam prosiding seminar.

Oh, pantesan teman saya yang jadi dosen pada berlomba menulis artikel di jurnal nasional dan international, katanya angka kreditnya lebih tinggi !“, sela seorang mahasiswi.

Wah pak, artikel yang sudah saya download, ternyata jurnal international semua nih, bermutu semua dong?“, tanya mahasiswa.

Coba anda lihat di website jurnal internationalnya, berapa citation index-nya?“, jawab Saya, yang langsung ditanggapi oleh mahasiswa dengan diam dan wajah kebingunan

Saya pun langsung menjelaskan bahwa jurnal international yang bermutu adalah jurnal yang artikelnya banyak dikutip oleh orang. Misalnya, sebuah artikel yang ditulis oleh Mr X (2006) tercantum dalam daftar pustaka atau dikutip dalam 100 artikel lain. Jika ada artikel lainnya- misalnya ditulis oleh Mr Z (2005), hanya dikutip oleh 25 artikel lain, maka artikel Mr X (2006) mempunyai high impact yang lebih tinggi dibandingkan artikel Mr Z (2006).  Kita tunda dulu diskusi tentang bagaimana menghitung citation index. Kita kembali ke Annotated Bibliography.

Masih bingung Pak, jadi yang memberikan informasi atau ulasan tambahan itu kita ya?

Ya, anda harus membacanya terlebih dahulu, lalu mencatat hal-hal yang menarik terkait dengan topik riset Anda!

Saya langsung menayangkan contoh AB yang pernah saya buat ketika menyusun artikel untuk dipublikasikan pada sebuah jurnal international.

13029832011988651226

Jadi Bahan Tulisan

Boleh gak Pak jika deskripsinya adalah menarasikan dalam bentuk paragraf dari isi tabel hasil meta-analysis“, tanya mahasiswi yang terlihat masih antusias.

Saya mempersilahkan mereka membuat deskripsi seperti contoh di atas. Bahannya dari tabel hasil meta analysis yang sudah mereka presentasikan pada pertemuan sebelumnya Kami pun terlibat diskusi. Saya berkeliling dari satu ke meja lain, sekedar memberikan saran dalam pembuatan AB. Sebagian besar dari mereka masih kesulitan dalam menuangkan informasi dalam tabel tersebut ke dalam beberapa kalimat. Namun semangat dan kerja keras masih terpancar dari mereka. Setelah setengah jam, Saya mempersilahkan salah seorang mahasiswa untuk mempresentasikan hasil AB yang telah dibuatnya, seperti disajikan di bawah ini.

1303024402420202596

Pak, jadi setiap pustaka yang kita kutip harus dibuat seperti itu?“, tanya temannya yang cuma melotot tak berkedip melihat tayangan contoh AB di dinding kelas yang masih terlihat putih bersih.

Saya pun menjelaskan bahwa AB tersebut menjadi bahan tulisan anda, bisa dipilah dan dipilih, mana yang disajikan di Bab1, Bab2, Bab3, bahkan Bab 4. Kita membuat kutipan di Bab 1 jika sangat mendukung atau mempunyai relevansi tinggi dengan masalah penelitian kita. Artikel-artikel yang ditulis berdasarkan hasil penelitian empiris dapat kita kutip hasil penelitian dan analisisnya sebagai premis dari hipotesis- atau kadang dalam bentuk kerangka pemikiran di Bab 1.  Kita bisa mengatakannya sebagai premis yang kuat jika artikel tersebut berisi variabel dan  metododologi yang relatif sama dengan variabel dan metodologi yang digunakan dalam penelitian kita. Dan artikel yang bermutu juga tentunya.

Artikel tersebut juga bisa dikutip lagi di Bab 4 (Hasil dan Pembahasan), namun lebih dititikberatkan pada perbandingan hasil penelitian kita dengan artikel tersebut. Jika ada artikel yang isinya masih relevan dengan topik kita, namun isi atau pernyataannya kurang kuat untuk dijadikan premis untuk hipotesis, maka kutipan dari artikel tersebut dapat disajikan di Bab 2 tentang tinjauan pustaka, misalnya kutipan tentang pengertian dan karakteristik E-banking yang menjadi wilayah penelitian kita.

Kutipan di Bab 3 (Metodologi) bisanya berkaitan dengan metode yang kita gunakan, yang tentunya sudah ditemukan sebelumnya oleh Peneliti lain. Jadi kita sebaiknya menyebutkan penemu dari metode tersebut. Apalagi jika kita menggunakan instrumen penelitian (kuisener) yang diadaptasi atau dimodifikasi dari kuisener yang pernah digunakan di artikel pada penelitian sebelumnya. Defisinisi variabel pada kuisener yang digunakan oleh kita pun kadang mengambil dari definisi, dimensi, dan indikator pertanyaan dari berbagai sumber kutipan.

Jadi kita harus memastikan bahwa artikel yang dikutip dalam penelitian kita adalah  sangat relevan, bermutu, dan mutakhir. Itulah salah satu kegunaan utama dari AB.

Pak, tadi Bapak mengatakan, kita harus membaca langsung artikel tersebut, bukan dari artikel lain yang mencantumkan kutipan dari artikel pertama. Padahal isi pada artikel pertama itu sangat relevan dengan topik saya pak?“, tanya mahasiswa yang barusan mempresentasikan AB. “Terus pak, cara mengutip dan membuat daftar pustaka juga pak. Kok di artikel jurnal international yang saya baca, cara menulis kutipan dan daftar pustakanya beda-beda lho pak?“, tambahnya.

Nanti kita bahas pada pertemuan berikutnya!”, jawab Saya dan langsung menutup perkuliahan.

—-

Versi untuk penyusunan Skripsi bisa dilihat di buku:

Melawan Hantu Bernama Skripsi

 

Tulisan selanjutnya:

Menyusun Thesis [5]: Makna Hipotesis

Ditulis Oleh

Lihat semua tulisan dari

Website : http://pasca.gunadarma.ac.id/pasca

2 Responses to “Menyusun Thesis [4]: Annotated Bibliography”

Leave a Reply