Wadah Menulis Mahasiswa

Mewaspadai Krisis Ekonomi di Eropa dan Amerika

June 22nd, 2012 | by | in Catatan Kuliah | No Comments

Krisis ekonomi, siapapun yang mendengar kata tersebut pasti akan khawatir. Bangsa Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi pada tahun 1997 yang mengakibatkan hancurnya system perekonomian kita bahkan mengimbas ke masalah sosial dan politik. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada waktu itu disebabkan oleh kredit macet perbankan nasional dan imbas dari krisis ekonomi global. Hal ini menjadi suatu pelajaran agar pada waktu kedepan jika perekonomian dunia kembali diterpa krisis bisa mengantisipasi dengan berbagai solusi untuk mengamankan perekonomian nasional.
Saat ini kawasan Eropa sedang mengalami krisis moneter, dimulai ketika terjadi krisis utang di Negara Yunani yang kemudian merembet ke Irlandia dan Portugal. Ketiga negara tersebut memiliki utang yang lebih besar dari GDP-nya, dan juga sempat mengalami defisit (pengeluaran negara lebih besar dari GDP). Krisis mulai terasa pada akhir tahun 2009, dan semakin seru dibicarakan pada pertengahan tahun 2010. Pada tanggal 2 Mei 2010, IMF akhirnya menyetujui paket bail out (pinjaman) sebesar €110 milyar untuk Yunani, €85 milyar untuk Irlandia,dan €78 milyar untuk Portugal. Kemudian kekhawatiran akan terjadinya krisis pun berhenti sejenak. Efek dari krisis Eropa ini cukup berdampak kepada IHSG, yang ketika itu anjlok besar-besaran dari posisi 2,971 ke posisi 2,514.
Keadaan semakin memburuk ketika pada awal tahun 2010, diketahui bahwa Pemerintah Yunani telah membayar Goldman Sachs dan beberapa bank investasi lainnya, untuk mengatur transaksi yang dapat menyembunyikan angka sesungguhnya dari jumlah utang pemerintah. Pemerintah Yunani juga diketahui telah mengutak atik data-data statistik ekonomi makro, sehingga kondisi perekonomian mereka tampak baik-baik saja, padahal tidak. Pada Mei 2010, Yunani sekali lagi ketahuan telah mengalami defisit hingga 13.6%. Salah satu penyebab utama dari defisit tersebut adalah banyaknya kasus penggelapan pajak, yang diperkirakan telah merugikan negara hingga US$ 20 milyar per tahun.
Tantangan yang begitu hebat dihadapi para pemimpin Eropa, sejak bangkrutnya Yunani, disusul Irlandia, Spanyol, merembet ke Itali, Inggris, dan terakhir melanda Perancis, yang masuk ke jurang krisis akibar utang. Perancis nasibnya sama seperti Amerika Serikat yang telah diturunkan peringkat rating kreditnya dari AAA menjadi AA+. Perancis yang mempunyai utang yang setara dengan 95 % PDB nya, sudah tidak lagi mampu mengatasinya.
Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukannya, kecuali hanya dengan memotong defisit anggaran, dan itu pasti akan membawa malapetaka kepada krisis politik dan sosial. Ujungnya terjadinya pemberontakan rakyat. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel mengumumkan langkah-langkah kebijakan mengatasi krisis utang, tetapi tidak mempunyai dampak positif di pasar. Bursa saham di Uni Eropa terus berguguran sampai titik yang paling rendah.

Uni Eropa saat ini memerlukan perubahan seluruh sistem perekonomiannya untuk pulih dari krisis hutang. Pengamat ekonomi Inggris, Shabbir Razvi, menyebutkan masalah ekonomi dan krisis hutang Eropa adalah buah dari kapitalisme yang korup.
Razvi menambahkan bahwa Uni Eropa membutuhkan langkah-langkah berani untuk keluar dari krisis. Yakni, langkah perubahan secara keseluruhan sistem kapitalis yang korup tersebut.
Razvi menilai krisis akibat sistem kapitalisme ini harus dilihat dari perspektif bahwa paham kapitalisme busuk dan korup telah merusak para politisi. Sistem kapitalisme telah merusak seluruh tatanan masyarakat dengan cara bankir nakal seperti yang terjadi di setiap negara Eropa dan Yunani.
Seluruh masalah dalam sistem kapitalisme, jelas Razvi, adalah bentuk keserakahan dan kerakusan para bankir. Mereka mengejar bonus yang banyak dan gaji yang semakin tinggi tanpa memikirkan dampaknya dalam masyarakat. Pada gilirannya mereka merusak seluruh sistem perekonomian dengan memohon perlindungan dari para politisi.
Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, sebelumnya menyebut kapitalisme Barat adalah biang kehancuran ekonomi dunia. Ia juga mengatakan bahwa kapitalisme Barat saat ini di ambang kehancuran. Dunia harus menemukan sistem alternatif yang menjamin kesejahteraan dan keadilan.
Krisis Ekonomi Eropa Sudah Menjalar ke Indonesia

Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional Indonesia menilai krisis ekonomi yang terjadi di Uni Eropa sudah menjalar ke Indonesia, sehingga protokol manajemen krisis harus diperkuat.

Sigit Pramono, Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas), menilai tanda krisis sudah masuk Indonesia terlihat dari indikasi seperti pelemahan rupiah, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan menipisnya likuiditas valuta asing.

“Kita sudah masuk krisis, jadi bukan ancaman lagi. Semua, dari pemerintah, regulator, pelaku harus siap-siap untuk bisa menghadapi krisis,” ujarnya, Selasa, 12 Juni 2012.

Sigit berharap Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) harus segera duduk bersama melakukan simulasi pelaksanaan protokol manajemen krisis (crisis management protocol).

Masing-masing instansi tersebut telah menandatangani MoU Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) yang telah memiliki protokol terpisah dalam menghadapi krisis. Menurut dia, semua protokol tersebut harus disikronkan segera.

“Sinkronisasi protokol krisis masing-masing instansi yang terpisah. Supaya kalau terjadi krisis tidak saling menunggu karena sudah ada tugasnya,” ujarnya.
Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Keuangan RI Agus Martowardojo di hadapan pers bahwa pemerintah mulai mengantisipasi memburuknya situasi dan kondisi perekonomian Eropa yang bisa berdampak ke Asia. Prioritas utama pada sektor perdagangan dan keuangan dikarenakan dua sektor tersebut sangat rentan terkena efek krisis. Ancaman pelemahan ekspor akibat krisis Eropa membuat pemerintah mengambil langkah untuk fokus pada investasi dan konsumsi di dalam negeri dengan harapan sektor perdagangan dan keuangan dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain itu Menteri Keuangan memperkirakan jika krisis eropa tidak segera teratasi maka nilai tukar rupiah akan mengalami sedikit pelemahan, hal ini disebabkan krisis ekonomi global akan membuat kinerja impor lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor. Dalam kondisi seperti itu seharusnya pelemahan mata uang rupiah dimanfaatkan untuk menekan kinerja impor berdasarkan prioritas yang dibutuhkan dan meningkatkan ekspor. Pemerintah perlu mengambil langkah cerdas dan bijaksana agar Indonesia tidak kembali terpuruk jika memang nantinya krisis ekonomi Eropa menjadi pemicu krisis global.
Untuk mengantisipasi krisis ekonomi eropa dan Amerika, Indonesia harus belajar dari pengalaman pada waktu mengalami krisis ekonomi tahun 1997. Kita harus memperkuat sistem ekonomi kerakyatan dan mendorong sektor riil untuk maju. Jangan berkiblat pada sistem ekonomi Kapitalis karena sistem tersebut terbukti sudah menghancurkan perekonomian beberapa Negara di dunia. Indonesia harus berani merubah kiblat sistem ekonominya, yang tadinya sistem ekonomi Kapitalis menjadi Sistem ekonomi kerakyatan yang berdasarkan pada akar budaya bangsa Indonesia dan nilai-nilai luhur yaitu gotong royong, jujur, dan berkeadilan sosial.

Sumber :

Ivan Teofilus, http://mss-feui.com

www.republika.co.id

Donald Banjarnahor, www.bisnis.com

www.permatabank.net

Ditulis Oleh

Lihat semua tulisan dari

Leave a Reply